Di Antara Ombak dan Redha
Dia hanyalah seorang perempuan,
yang masih belum usai urusan dunianya,
melewati relung masa dengan langkah yang digagahkan,
bukanlah dia kuat sepanjang jalan,
cukup untuk membawa hati yang penuh dengan takungan berbagai-bagai perasaan;
kadang membuatnya lemas di tengah jalan,
kadang membuatkannya tersungkur tersadung batu,
kadang membuatnya menjerut leher sendiri.
Likat hitam malam,
sunyi menggenggam jiwa,
hanya Tuhan dia mengharap,
agar tersahutkan,
setiap raungan jiwa itu.
Tidak cukupkah perasaan ditinggalkan itu cukup sekadar sekali?
Datang berkali-kali bagai ombak menunjal-nunjal kepala,
Tidak sempat menarik nafas aman,
Datang lagi badai, menghempas lagi,
Sehinggalah,
Akhirnya, terdampar di tepian;
dada berombak kencang tetapi selamat.
Semua rasa itu dirayakan,
semua rasa itu diselami,
dijiwai sehingga damai datang.
Berkali-kali ditampar dengan kehilangan,
Satu-satu pergi, meninggalkan,
Bukannya dia tidak bersyukur, malah sangat bersyukur,
Bercanda tawa,
tangan kaki gerak bekerja,
kepala minda memohon arah daripada Tuhan,
Semuanya diusai bersama.
Baru sudah mahu melabuhkan punggung,
membiasakan diri dengan tujuan,
Dia perlu menelan kepahitan;
Usai seorang, seorang pula pergi.
Hatinya berat, bergetar suara, memanggil "Tuhan!"
"Engkau tempat aku bergantung harap,
meminta kasih dan sayang,
mengharap ampun dan redha,
rasa ini, sedang menjerut aku,
maka, aku benar-benar mengharap,
Engkau tenangkan hatiku,
lebih dari mahuku."
Lebih puluhan purnama,
menanggung rindu yang tak tertanggung,
memohon doa yang teragung,
bersujud dengan harapan menggunung.
Maka, dia cuba,
perlahan-lahan memujuk diri,
ini rencana Tuhan.
Rasa pilu ini dihadratkan kepada-Nya,
agar tidak terus merasakan sesak yang menikam jiwa,
agar dia juga terus bersinar,
dan turut jua berkelip pudar sekiannya,
agar tidak lagi tersiksakan.
Comments
Post a Comment
Ya, saya?